BerandaHeadlinesIni Catatan Penting Stefanus BAN Liow di Satu Tahun Kepemimpinan YSK-Victory

Ini Catatan Penting Stefanus BAN Liow di Satu Tahun Kepemimpinan YSK-Victory

Stefanus BAN Liow

MANADO-Ini catatan postif Ketua Badan Urusan Legislasi Daerah (BULD) DPD RI, Stefanus BAN Liow, terhadap satu tahun kepemimpinan Gubernur Sulut Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus dan Wakil Gubernur Victor Mailangkay.


Kepada wartawan Ketua DPD Desa Bersatu Provinsi Sulut menyatakan pemerintahan YSK-Victory di satu tahun kepemimpinan telah mampu memberikan terobosan di berbagai bidang hingga sinergitas yang baik di daerah hingga pusat.


Pak Stefa sapaan akrab senator dua periode menilai pembangunan di sektor ekonomi, ketahanan pangan, pariwisata, hingga SDM telah menunjukkan arah yang progresif melalui sinergi lintas sektor.

Dijelaskan Stefanus BAN Liow, kemampuan YSK-Victory dalam membangun kolaborasi yang solid dengan DPRD, Forkopimda, dan seluruh pemangku kepentingan. Salah satu capaian krusial yang disoroti adalah hadirnya Perda RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah).

”Meskipun sempat berada di tengah dilema, kehadiran Perda RTRW setelah sekian tahun merupakan langkah berani. Ini adalah fondasi penting untuk mewujudkan Sulut yang maju, sejahtera, dan berkelanjutan. Sudah sekian lama tidak ada perubahan, namun akhirnya perda ini diketuk,” tegas Liow.

Bahkan dalam menghadapi tantangan fiskal berupa pemotongan dana transfer pusat, Liow menekankan pentingnya lompatan inovasi.

“Pemerintah daerah untuk tidak hanya bergantung pada dana pusat, tetapi mengoptimalkan potensi daerah,”kata Liow.

Stefanus BAN Liow mengingatkan juga perlunya optimalisasi pariwisata.

Sektor ini diakui Liow harus menjadi mesin utama penggerak ekonomi serta diperlukan strategi baru dalam penggalian sumber pendapatan asli daerah agar program pembangunan tetap berjalan mandiri yakni dengan terus meningkatkan sektor Pariwisata.

Sedangkan mengenai ketahanan pangan, Liow memberikan catatan kritis mengenai pemanfaatan lahan. Ia menyoroti pentingnya edukasi bagi masyarakat agar lahan-lahan produktif tidak dibiarkan tidur.

”Kita harus membangun manusianya agar mau mengolah lahan. Yang jadi masalah disini yakni Manusia yang tidur enggan menggarap lahan tidur. Jangan sampai Sulut yang kaya ini justru mengambil beras atau buah dari luar daerah seperti Suluteng, sementara mereka juga harus memenuhi kebutuhan daerah,” tuturnya. (mom)

- Advertisment -