
Oleh : Albert Piterhein Nalang.
Eddy Salindeho adalah seorang birokrasi lulusan kepamong prajaan yang memainkan birokrasi seperti seorang musisi memainkan musik. Permainan keduanya adalah hiburan, bahkan ekstasi bagi orang lain. Dengan Eddy, birokrasi keluar dari rutinitasnya yang bersifat formal dan kaku. Bersifat personal pada satu sisi, namun begitu publik di sisi yang lain.
Maksudnya, Eddy memainkan birokrasi dari kualitas dan kreativitas personalnya yang, sudah sejak dari prosesnya, bisa dinikmati oleh para aparatur sipil negara. Dan itu dia lakukan dengan menyiasati pemerintahan sebagai tangga nada bagi resital birokrasinya. Karena itulah, saya tidak percaya bahwa karir politik Eddy akan berhenti sebagai pejabat sekretaris daerah.
Sejak tahun 2024 ketika kami pertama bertemu untuk membicarakan rencananya maju dalam pemimpin tertinggi aparatur sipil Negara, saya tidak bisa lagi melihat kakak Eddy panggilan akrabnya “hanya” sebagai seorang kepala organisasi perangkat daerah. April 2026 kemarin, dia dipercayakan sebagai Plh Sekda Sitaro. Tapi di luar formalitas itu, saya tidak melihat wajah seorang Sekda.
Masa bagi Eddy untuk mengurus sebuah Pemerintahan kecil yang mempunyai hampir 1000 ASN, sebetapapun pentingnya itu, tampaknya telah berakhir. Ketika Kab Kep. Sitaro diguncang prahara DSP di satu sisi dan menguatnya politik identitas di sisi yang lain, Sitaro membutuhkan pemimpin dilevel birokrasi dengan kapasitas setingkat Eddy Salindeho.
Ini bukan kampanye Kakak Eddy for Sitaro sebagai Pj Sekda, meskipun juga bukan penilaian yang harus dianggap obyektif. Sulit bagi saya yang telah lama mengikuti perkembangan birokrasi di tanah kelahiran saya ini tanpa mencoba mengulang ingatan akan tokoh-tokoh terbaik seperti Jupiter Makasangkil, Heidy Janis, Herry Bogar dan Denny Kondoj. Salah satunya adalah Eddy Salindeho
Tulisan ini tidak bermaksud menguraikan peran dan sumbangsih Eddy bagi Kab Kepl Sitaro dalam karir panjangnya sebagai seorang birokrasi. Tulisan ini hanya ingin menjadi lonceng peringatan bahwa dimensi yang lebih dalam dari ketokohan seorang birokrasi adalah samarnya latar bagi langkah birokrasi sang tokoh.
Kita sudah pernah meributkan gagasan rekonsiliasi CK-HM. Untuk kepentingan apapun, gagasan itu kemudian menimbulkan beragam reaksi. Yang paling keras barangkali adalah penolakan beberapa kelompok dalam aliansi CK. Saat itu kita mencoba menebak apa langkah CK.
Para penolak rekonsiliasi di kubu CK kini harus kecewa bahwa tokoh puncak mereka itu ternyata menyambut uluran tangan HM. Persoalan yang kemudian kita hadapi adalah kesamaran latar pikiran HM untuk mengambil langkah yang sekira tidak terlalu populer bagi sebagian pendukungnya.
Eddy Salindeho adalah jenis tokoh birokrasi dengan latar yang sama-samar dalam langkah birokrasinya. Ini kerap membuat cemas beberapa pihak di sekitarnya. Selain bahwa kesamaran itu sudah menjadi tuntutan taktis dan strategis, juga bahwa Eddy tidak mudah untuk diramalkan. Dan ini jadi serius saat kita mendekati Sekrataris Daerah Sitaro definitif.
Saya yakin, hingga detik ini tidak banyak orang yang tahu apakah Eddy akan maju dalam kontestasi shelter Sekda definitif atau tidak. Tapi menyadari kesamaran itu, barangkali pertanyaan harus kita balik. Apakah ada cukup energi dari rakyat Sitaro untuk mendorong Eddy ikut dalam kontestasi Sekda definitif nanti?
Saya tidak tahu jawaban untuk pertanyaan itu tapi saya tahu apa jawaban saya secara pribadi sebagai bagian dari rakyat Sitaro. Ya, saya punya cukup energi untuk mendorong Eddy maju sebagai calon Sekda definitf nanti. Tentu saja sembari membayangkan ada begitu banyak saya yang lain yang akan melakukan itu.
Pada sebuah kongkow-kongkow dengan beberapa wartawan asal Sitaro, saya pernah ditanya kenapa saya begitu bersimpati pada Eddy Salindeho. Saya memberikan dua jawaban. Satu bersifat subyektif dan satu lagi obyektif. Yang subyektif adalah kerinduan saya yang sekira urgen akan seorang jendral birokrasi.
Dan dengan jendral birokrasi saya maksudkan seorang birokrasi yang sesungguhnya birokrasi. Bukan birokrasi yang bersembunyi di bawah spanduk populistis sebagai rakyat biasa yang peduli dengan masalah di daerahnya atau profesional tetek bengek yang ingin membangun Sitaro. Kenapa?
Karena berhadapan dengan persoalan besar Sitaro ke depan nanti, Sitaro dituntut untuk, pertama, mampu berdiri sendiri secara ekonomi. Itu bukan dengan cara menutup diri dan mengupayakan sebentuk pembangunan yang diarahkan Provinsi. Tapi diplomasi ekonomi-politik dan pemerintahan daerah yang sadar akan dampak positif maupun negatif dari mafia lokal.
Kedua, Sitaro dituntut berperan aktif dalam melakukan konsolidasi kebangsaan untuk menghadapi serangan birokrasi identitas dalam berbagai macam bentuknya. birokrasi atau disebut dengan politik identitas, setidaknya di daerah ini, erat berkelindan dengan narasi post-truth yang membikin resah itu.
Sedemikian sehingga kita tidak bisa lagi menunjuk satu pihak sebagai semata pemainnya. Ancaman penguatan identitas Anawanua dalam politik hari ini bisa memicu penguatan identitas lain sejenis. Dan itu akan tersalur lewat pipa-pipa logika pasca kebenaran; serbuan hoax dan hilangnya kepercayaan akan yang baik dan benar.
Persilangan antara kedua guncangan itu – guncangan mafia lokal dan guncangan politik identitas – di tingkat daerah akan berujung pada munculnya populisme otoritarian, seperti yang ditulis oleh Hannah Arendt seorang filsafat politik. Dengan pluralitas, perbedaan tidak dinegasikan tapi dikelola melalui interaksi yang terbuka dan setara bagi siapa saja. Prinsip inilah yang menjadi fondasi keadilan di ruang publik.
Adapun di tingkat Provinsi, seperti di Sitaro, kita akan menyaksikan persebaran rasa cemas akan keamanan ekonomi dan kepastian nilai yang bisa mengendap menjadi keresahan sosial. Dalam skala kita di Sitaro, itu bisa berujung pada ledakan kemarahan oleh sebab yang mungkin tak kita sangka.
Sebagai birokrasi dengan kapasitas petarung di arena konflik kepentingan, saya yakin, Eddy Salindeho pasti bisa mengantisipasi dampak dari kedua guncangan tersebut. Dibicarakan dari sudut identitarian, Eddy adalah turunan Siau yang saat ini Jabatan definitif Asisten Ekonomi Pembangunan Kab Kepl Sitaro dan dipercayakan oleh Plt Bupati Sitaro Heronimus Makainas sebagai Pj Sekda.
Itu terlalu jelas sebagai kode bagi kemampuannya keluar dari bingkai identitas sempit dan memasuki bingkai identitas nasionalisme-hunitarian yang lebih luas. Dan saya tidak percaya dia bisa melakukan itu di luar karir birokrasi yang panjang untuk memberinya taktik dan strategi pemerintahan yang matang.
Dibicarakan sebagai ASN senior, Eddy tidak pernah melangkah dalam ruang hampa masalah. Baik sebagai kepala OPD maupun sebagai Pelsus di Sinode GMIST, dia tidak pernah mencari aman dalam bertindak. Bersiasat iya, berkhianat tidak.
Lebih dari itu, kita bisa cukup yakin bahwa persoalan mencari ruang bagi pembangunan ekonomi Sitaro di tengah kebijakan ekonomi nasional yang terjepit dalam efisiensi anggaran saat ini, adalah cap birokrasi seorang Eddy Salindeho
Di sini kita bicara soal diplomasi ekonomi dan pemerintahan daerah pada dua arah. Ke dalam, mengarah pada kebijakan ekonomi nasional dan, ke luar, mengarah pada guncangan ekonomi dalam pusaran mafia lokal.
Menjadi sahabat Kakak Nanu untuk urusan ke dalam bukan sebuah jaminan dalam mengamankan ekonomi daerah. Menjadi mitra kakak Nanu dan loyalitas kepada Pimpinan Daerah, itulah jawabannya. Adapun urusan keluar membutuhkan keberanian untuk mengambil langkah yang tak jarang tidak populis dan independen terhadap kepentingan birokrasi jangka pendek.
Siapa yang bisa memegang tanggungjawab untuk duduk di kursi Sekda definitif Kabupaten Sitaro dalam masa yang kelak paling bergolak seperti itu? Yang bisa bersiasat dengan kebijakan ekonomi nasional sembari berdiplomasi dengan kekuatan global untuk mengamankan Sitaro dari dampak politik identitas, mafia lokal?
Saya yakin Sitaro memiliki banyak birokrasi hebat. Tapi jika harus menyebut nama, untuk saat ini, saya hanya berani menyebut nama Kakak Edy. Karena memang hanya nama itu yang secara subyektif bisa saya pertanggungjawabkan.
Lalu apa jawaban obyektif saya terhadap pertanyaan para wartawan asal Sitaro? Sederhana, pahami dengan benar jawaban subyektif saya. Itu sudah cukup untuk memberikan kisi-kisi obyektif akan ketokoha Kakak Eddy seorang senior birokrasi lulusan kepamong prajaan.


