
MESKI tahapan Pilkada Kota Manado masih terbilang jauh, suhu politik di sejumlah rumah kopi mulai terasa memanas. Obrolan mereka; pemerhati politik, tokoh masyarakat hingga warga mulai membahas figur-figur calon wali kota dan peta kekuatan politik.
Dari rumah kopi satu ke rumah kopi lainnya bergulir topik pembicaraan sama, seolah pesta demokrasi lima tahunan itu sudah berada di depan mata, sehangat aroma panas kopi yang mengepul di setiap sudut perbincangan.
Ouww…!! Pembahasan panas itu ternyata dipicu; jika Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) No: 135/PUU/XXII/2024 tentang Pemilu Nasional dan Pemilu Lokal diselenggarakan terpisah mulai 2029 akan terjadi?!
Diketahui, Putusan MK itu diajukan oleh Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) yang diucapkan dalam Sidang Pengucapan Putusan digelar di Ruang Sidang Pleno MK, Kamis (26/6/2025) lalu.
Format baru pemisahan pemilu ini resmi akan diterapkan mulai penyelenggaraan pemilu tahun 2029 mendatang, alasan MK menjaga keserentakan penyelenggaraan pemilihan umum yang konstitusional, yakni dengan memisahkan penyelenggaraan pemilihan umum anggota DPR, anggota DPD, dan presiden/wakil presiden (Pemilu nasional) dengan penyelenggaraan pemilihan umum anggota DPRD provinsi/kabupaten/kota serta gubernur/wakil gubernur, bupati/wakil bupati, dan walikota/wakil walikota (Pemilu daerah atau lokal). Dengan begitu, Pemilu serentak yang selama ini dikenal sebagai “Pemilu 5 (lima) kotak” tidak lagi berlaku.
Kembali ke pembiacaraan hangat ‘Rumah Kopi Panas’ tadi. Bagaimana Pilkada Kota Manado nanti? Jika mengacu putusan MK tersebut berarti tahapan Pilkada serentak memilih wali kota dan wakil wali kota tidak akan dilaksanakan tahun 2029 maupun 2030.
Karena MK menetapkan Pilkada dipisah dari Pemilu Nasional dengan jeda 2 hingga 2,5 tahun setelah pelantikan Presiden dan anggota DPR/DPD dengan rancangan: Tahun 2029 Pemilu Nasional (Pilpres, DPR RI dan DPD). Tidak ada agenda pemilihan wali kota.
Berarti tahun 2030 tidak ada agenda tahapan Pilkada Manado karena tahun itu berfokus pada masa pemerintahan wali kota Manado hasil Pilkada 2028 (Hasil pemilihan 2 tahun setelah pelantikan serentak Pileg/Pilres 2026).
Dengan kata lain, agenda terdekat pemilihan wali kota dan wakil wali kota Manado pun diselenggarakan tahun 2028 yang rangkaian tahapannya akan dimulai sejak pertengahan hingga akhir tahun 2027.
Inilah persoalan hingga ‘penikmat kopi hangat’ ikut ‘panas’ saling hitung-hitungan mengklaim, memilih dan memilah figur masing-masing agar tidak terjadi pengalaman-pengalaman sebelumnya, salah pilih ‘jagoan’ Pilkada di ibu kota provinsi Sulut ini.
Figur yang memiliki jejaring kuat, pengalaman birokrasi, latar militer, hingga basis politik akar rumput jadi perbincang hangat. Dari sekian figur dipilah-pilah, terselip tiga nama disebut-sebut lagi tengah mengakar di masyarakat Kota Manado. Tiga nama yang kerap muncul dalam percakapan politik lokal tersebut yakni Bonifacius Jerry Waleleng, Richard Henry Marten Sualang dan Mor Dominus Bastiaan.
Mereka datang dari latar berbeda, tetapi memiliki satu kesamaan: sama-sama memiliki pengaruh dalam lanskap sosial-politik Manado.
Nama Bonifacius Jerry Waleleng (BJW) dikenal dengan displin militer dan punya jaringan nasional. Sebagai figur berlatar militer dengan pengalaman panjang di lingkungan TNI, khususnya pasukan elite Kopassus sehingga karier militernya membentuk citra tegas, disiplin, dan memiliki kemampuan kepemimpinan strategis.
Purnawirawan Jenderal TNI-AD ini mulai menunjukkan kiprahnya setelah dipercayakan memimpin Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sulawesi Utara sebagai bagian dari penguatan sektor olahraga di era pemerintahan Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus Komaling (YSK).
BJW diketahui memiliki hubungan senior-junior dengan Gubernur Sulut YSK ketika keduanya masih aktif bertugas di lingkungan TNI AD dan sama-sama pernah menjalankan penugasan strategis di satuan Kopassus.
Dalam kultur politik lokal, figur berlatar militer sering mendapat tempat tersendiri karena dianggap memiliki kemampuan manajerial, ketegasan dalam pengambilan keputusan, serta jaringan nasional yang kuat. Faktor inilah yang membuat nama BJW mulai diperbincangkan dalam berbagai forum informal masyarakat dan komunitas politik Sulawesi Utara.
Meski belum menyatakan langkah politik secara terbuka, kemunculan tokoh berlatar militer dalam kontestasi daerah selalu menarik perhatian. Publik Manado selama ini cukup akrab dengan figur pemimpin yang memiliki kombinasi ketegasan dan kemampuan komunikasi sosial.
Pengaruh BJW juga dinilai lahir dari jejaring sosial yang luas, termasuk relasi dengan komunitas veteran, tokoh agama, dan kelompok masyarakat sipil. Modal sosial seperti ini sering menjadi kekuatan penting dalam politik lokal, terutama ketika masyarakat mulai mencari alternatif figur baru di luar arus utama partai.
Dalam sejumlah diskusi politik lokal, BJW dipandang sebagai simbol figur profesional yang belum terlalu terpolarisasi oleh konflik politik praktis. Hal itu bisa menjadi keuntungan jika suatu saat memilih masuk lebih jauh dalam arena Pilkada Manado.
Jika Jerry Waleleng datang dari jalur militer, maka Richard Henry Marten Sualang adalah representasi politikus murni yang tumbuh dari bawah. Dia dikenal sebagai politikus organik yang sedang berada di puncak karier.
Menjabat Wakil Wali Kota Manado dan kembali terpilih mendampingi Wali Kota Andrei Angouw untuk periode 2025–2030. Lahir di Manado pada 20 Juni 1973, Richard memiliki latar pendidikan kedokteran di Universitas Sam Ratulangi.
Namun karier politiknya jauh lebih menonjol dibanding profesi medisnya. Ia memulai perjalanan politik sebagai anggota DPRD Kota Manado periode 2009–2014, kemudian menjadi Wakil Ketua DPRD Manado periode 2014–2019, sebelum naik ke DPRD Provinsi Sulawesi Utara.
Karier Richard memperlihatkan pola politik bertahap dan konsisten. Ia tidak muncul secara instan, melainkan tumbuh melalui proses panjang di legislatif dan struktur partai.
Selain dikenal sebagai kader senior PDI Perjuangan Manado, Richard juga aktif dalam berbagai organisasi olahraga seperti FPTI dan Perbasi. Aktivitas organisasi ini membuat basis sosialnya meluas, tidak hanya di kalangan partai tetapi juga komunitas olahraga dan anak muda.
Dalam pemerintahan, Richard dikenal aktif menjalankan fungsi administratif dan koordinatif di Pemkot Manado. Ia beberapa kali memimpin pelantikan pejabat, agenda birokrasi, hingga kegiatan pelayanan publik.
Saat ini kekuatan utama seorang Ichad, sapaan akrabnya terletak pada 3 hal. Struktur partai, pengalaman di legislatif dan eksekutif serta kedekatan dengan basis masyarakat perkotaan.
Sebagai petahana, Ichad memiliki keuntungan besar berupa akses terhadap kerja-kerja pemerintahan yang langsung dirasakan masyarakat. Dalam politik lokal, elektabilitas petahana sering terbentuk bukan hanya lewat kampanye, tetapi melalui program konkret yang terlihat sehari-hari.
Kemenangan pasangan Andrei Angouw–Richard Sualang dalam Pilkada Manado 2024 juga memperlihatkan bahwa mesin politik mereka masih sangat solid. Pasangan ini unggul di sebagian besar kecamatan di Manado.
Namun tantangan Ichad ke depan juga tidak kecil. Sebagai figur yang berada di pusat kekuasaan, ia akan terus menjadi sorotan publik. Segala kebijakan pemerintah kota akan ikut menentukan persepsi masyarakat terhadap peluang politiknya di masa depan.
Perbicangan panas komunitas rumah kopi juga tak kalah mengelaborasi dengan figur Mor Bastiaan. Dia dikenal politkus senior dengan basis loyalis yang masih bertahan. Tak heran jika Mor masih tetap menjadi salah satu figur paling dikenal dalam politik Manado.
Mor pernah menjabat Wakil Wali Kota Manado periode 2016-2021 mendampingi Wali Kota GS Vicky Lumentut ketika itu. Sebelum masuk pemerintahan, ia dikenal sebagai politisi Partai Demokrat sekaligus pengusaha sukses di sektor diving resort dan perdagangan hasil bumi.
Mor dinilai memiliki kombinasi unik antara dunia usaha, organisasi keagamaan, dan politik. Ia juga dikenal aktif dalam berbagai organisasi kepemudaan dan olahraga. Selain itu, latar belakang pendidikan hukum dan teologi memberi warna tersendiri dalam gaya komunikasinya di ruang publik.
Dalam sejarah politik Manado, Mor Bastiaan pernah menjadi salah satu figur paling kuat di Partai Demokrat Sulawesi Utara. Bahkan pada Pilkada Manado 2020, namanya tetap didorong sebagai calon wali kota oleh internal partai.
Kekuatan Mor hingga kini masih terletak pada loyalitas pendukung lama. Dalam politik lokal, figur yang pernah memegang kekuasaan biasanya tetap memiliki jaringan sosial yang tidak mudah hilang. Hubungan emosional dengan komunitas gereja, kelompok pengusaha, dan simpatisan lama menjadi modal penting.
Mor juga dikenal memiliki kemampuan komunikasi publik yang baik dan cukup dekat dengan kultur masyarakat Manado yang cair serta egaliter. Apalagi saat ini dia memegang kemudi mesin partai Demokrat sebagai Ketua DPD I Sulut.
Walau tidak lagi berada di pemerintahan, namanya tetap muncul dalam berbagai pembicaraan politik lokal. Ini menunjukkan bahwa pengaruh politik tidak selalu ditentukan oleh jabatan formal, tetapi juga oleh kemampuan menjaga relasi sosial dan loyalitas pendukung.
Dalam politik Manado, popularitas saja tidak cukup. Figur yang mampu menyentuh komunitas akar rumput, menjaga komunikasi lintas kelompok, dan menghadirkan kerja nyata biasanya akan lebih mudah bertahan.
Karena itu, walaupun Pilkada masih jauh, pertarungan figur-figur pengaruh sesungguhnya sebenarnya sudah mulai berlangsung dari sekarang. ‘Selamat berjuang dari hangatnya aroma kopi panas yang mengepul di sudut rumah kopi!!!’. *** (Penulis : Anto Reppy – Pimpinan Redaksi www.manadoline.com)


